Rabu, 14 September 2011


YOGYA –- Sirup merupakan minuman yang sangat familier di kalangan masyarakat. Namun sedikit diantaranya yang sekaligus juga berfungsi sebagai antioksidan alami dan memiliki manfaat bagi tubuh.
Sekelompok mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta yaitu Nenny Widiani, Ari Purnomo, Arif Yoga Pratama, Tunjung Asri Ning Tyas dari jurusan pendidikan kimia dan Eko Pramono Jati dari jurusan pendidikan matematika membuat minuman yang menyehatkan yaitu sirup dari ekstrak ubi jalar kuning.
“Ubi jalar kuning dipilih karena memiliki kandungan betakaroten yang tinggi sehingga mempunyai potensi sebagai minuman antioksidan alami. Sementara selama ini ubi jalar kuning hanya diolah dengan cara sederhana seperti direbus atau digoreng. Dengan sirup ini masyarakat mendapatkan alternatif sirup antioksidan dan dapat meningkatkan nilai tambah ubi jalar,” ujar Nenny di Yogyakarta, Minggu (11/9).

Selasa, 13 September 2011


YOGYA –- Sirup merupakan minuman yang sangat familier di kalangan masyarakat. Namun sedikit diantaranya yang sekaligus juga berfungsi sebagai antioksidan alami dan memiliki manfaat bagi tubuh.
Sekelompok mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta yaitu Nenny Widiani, Ari Purnomo, Arif Yoga Pratama, Tunjung Asri Ning Tyas dari jurusan pendidikan kimia dan Eko Pramono Jati dari jurusan pendidikan matematika membuat minuman yang menyehatkan yaitu sirup dari ekstrak ubi jalar kuning.
“Ubi jalar kuning dipilih karena memiliki kandungan betakaroten yang tinggi sehingga mempunyai potensi sebagai minuman antioksidan alami. Sementara selama ini ubi jalar kuning hanya diolah dengan cara sederhana seperti direbus atau digoreng. Dengan sirup ini masyarakat mendapatkan alternatif sirup antioksidan dan dapat meningkatkan nilai tambah ubi jalar,” ujar Nenny di Yogyakarta, Minggu (11/9).
Ari Purnomo menambahkan, keistimewaan ubi jalar kuning terletak pada kandungan betakaroten yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya seperti jagung dan kentang. Betakaroten merupakan bahan pembentuk vitamin A dalam tubuh yang juga berfungsi untuk kesehatan mata.
“Ubi jalar putih mengandung 260 mg betakaroten per 100 gram sedangkan dalam ubi jalar kuning menyimpan 2.900 mg betakaroten. Artinya, dengan menyantap seporsi ubi jalar kuning kukus atau rebus sudah dapat memenuhi kecukupan vitamin A sebanyak 2.100 – 3.600 mg sehari,” katanya.
Menurutnya, berdasarkan penelitian tentang sirup ubi jalar kuning yang dilaksanakan di laboratorium kimia analisis Fakultas MIPA UNY, diperoleh kesimpulan bahwa formula yang paling efektif untuk membuat sirup ubi jalar kuning yaitu dengan formula tidak dikukus karena memberikan betakaroten yang paling tinggi.
“Ubi jalar kuning juga memiliki kandungan serat yang tinggi dan sangat baik untuk mencegah kanker saluran pencernaan serta mengikat zat karsinogen penyebab kanker di dalam tubuh. Serat yang terdapat pada ubi jalar kuning termasuk serat larut yang menyerap kelebihan lemak darah sehingga kadar lemak jahat dalam darah tetap aman terkendali,” imbuhnya.

Sabtu, 20 Agustus 2011

kord jablay dangdut

Am E Am
Waktu tamasya ke Binaria.
E
Pulang pulang ku berbadan dua.
Dm Am
Meski tanpa restu orang tua, sayang.
E Am
Aku rela abang bawa pulang.

Enggak kerasa udah setahun.
Si abang mulai berlagak pikun.
Udah nggak pernah pulang ke rumah, sayang.
Kepincut janda di Pulo Gebang.

Reff:
Am E
Lay lay lay lay lay lay…
Am
Panggil aku si jablai.
E
Abang jarang pulang,
Am
Aku jarang dibelai.

Anak kita skarang udah besar.
Mulai bingung kok bapaknya nyasar.
Kenapa bapak nggak pulang pulang emak
Kata tetangge .. emangnya enak

kucing garong

Intro C#m E B C#m G# C#m

C#m
Kelakuan si kucing garong
E B
Ora kena ndeleng sing mlesnong
C#m G#
Main sikat main embat
C#m
Apa sing liwat

C#m
Kelakuan si kucing garong
E B
Selalu ngulati sasaran
C#m G#
Asal ndeleng pepesan
C#m
Wajah bringasan

C#m
Iku contoe wang lanang
F#n C#m
Sing sifate kaya kucing garong
C#m
Awas kudu ngati-ati
F#m C#m
Yen kucing garong lagi beraksi

Int. C#m A E B

C#m
Sing dadi modal andalan
F#m C#m
Kucing ngedengi duit atusan
C#m
Yen bli kuat nahan iman
F#m C#m
Bisa-bisa jadi berantakan

kucing garong

Intro C#m E B C#m G# C#m

C#m
Kelakuan si kucing garong
E B
Ora kena ndeleng sing mlesnong
C#m G#
Main sikat main embat
C#m
Apa sing liwat

C#m
Kelakuan si kucing garong
E B
Selalu ngulati sasaran
C#m G#
Asal ndeleng pepesan
C#m
Wajah bringasan

C#m
Iku contoe wang lanang
F#n C#m
Sing sifate kaya kucing garong
C#m
Awas kudu ngati-ati
F#m C#m
Yen kucing garong lagi beraksi

Int. C#m A E B

C#m
Sing dadi modal andalan
F#m C#m
Kucing ngedengi duit atusan
C#m
Yen bli kuat nahan iman
F#m C#m
Bisa-bisa jadi berantakan

kord rela dangdut

intro : Em D G 2x

Em
Tak ubah berbunga lara
C
Rendahnya Pandanganmu
B Em
Padaku yang amat memerlukanmu
Em
Kegersangan sekeping hati
C
Mengharap setitik embun
B
Agar basah rindu ini

Em D
Aku yang terdiam
G B Em
Sejak mulai lagi
Em C D
Puasku merintih
B Em
Puas ku berduka

Em
Ku hanya mampu berserah
C
Beserta doa harapan
B Em
Rubahlah haluan hidup ini

Reff :
Em D
Demi cinta yang menyala
B Em
Ku rela menggenggam bara api
Em D
Demi kasih yang mengharu
B Em
Sungguh aku rela

Em D Dm
Biarpun pada pandangan
B Em
Seperti bunga yang layu terbuang
Em D Dm
Namun kau pasti tau
B Em D Dm
Semua karena aku masih lagi
B Em
Setia padamu
Em D
Puasku merintih
B Em
Seumpama pengemis


int: D Em C D Em
C D Em


Kembali Ke : Reff


Em D Dm
Biarpun pada pandangan
B Em
Seperti bunga yang layu terbuang
Em D Dm
Namun kau pasti tau
B Em D Dm
Semua karena aku masih lagi
B Em
Setia padamu
Em D
Puasku menangis
B Em
Puas ku berduka

Em C
Ku hanya mampu berserah
C
Beserta doa harapan
B Em
Rubahlah haluan hidup ini
Hooouo... houuuuo... houooo..

Chord Guitar Rhoma Irama - syahdu

Kord Syahdu (feat. Rita Sugiarto)
oleh: Rhoma Irama

Tuning F (maju 1/2 nada)
*Pria:
D Em G D
Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu
Em G D
Satu hari tak bertemu hati rasa rindu
G D
‘Ku yakin ini semua perasaan cinta
G D
Tetapi hatiku malu untuk menyatakannya
Em G D
Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu
Em G D
Satu hari tak bertemu hati rasa rindu

Em D Em/G D 2x
D G G D 2x

D E G D
Bila cintaku terbalas oh bahagia sekali
E G D Em D Em/G D
Tapi bila tak terbalas ‘ku tak sakit hati
D E G D
Karena aku menyadari siapa ‘ku ini
E G D
Tak mungkin bagi dirimu menyintai diriku
Em/G D
Namun bahagia hatiku
Em/G D
Bila selalu bersamamu

back to *

Em D Em/G D 2x
D G G D 2x

Wanita:
D E G D
Cintamu sudah terbalas sejak lama sekali
E G D Em D Em/G D
Tapi kupendam selalu oh di lubuk hati
D E G D
Ucapanmu yang kutunggu telah kudengar sendiri
E G D
Terimalah oh sayangku cinta pertama ini
Em/G D
Kini bahagia hatiku
Em/G D
Karena selalu bersamamu

back to * (wanita)

Duet:
D Em G D
Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu
Em G D
Satu hari tak bertemu hati rasa rindu

ngamen 1 dangdut

Lirik dan Kord Lagu Ngamen

E Am
dino iki mujur tenan
aku ngamen nang njero bis-bisan
Dm
penumpange lenggah tenang
supire gal-ugalan
Am
aku tibo jempalikan
ning pojokan

E Am
arek ayu klambi abang
cukuran lanang semiran abang
Dm
alise nanggal sepisan
idepe pasangan
Am
sayang untune bathikan
kopi lambada

E Am
iku ngono ra sepiro (mas)
ibarat aku nduwe konco
Dm
lagake koyok jutawan
ngalor-ngidul nggowo koran
Am
tibake gendheng anyaran
ditapuk setan

E Am
iku ngono ra sepiro (mas)
ibarat aku nduwe tonggo
Dm
(arek)e ayu temenan
jarang metu nang embongan
Am
tibake meteng rong ulan
merek ojekan

E Am
puger galewene
Dm Am
gerbongan iku julukane
Dm Am
wedokane lemu-lemu
E Am
dionyen ngguya-ngguyu, alamak
E Am
dionyen ngguya-ngguyu, alamak
E Am
dionyen ngguya-ngguyu

Chord Guitar Rhoma Irama - begadang

Intro: A F#m A F#m Bm A Bm A
A
Begadang jangan begadang
F#m
Kalau tiada artinya
Bm D
Begadang boleh saja
A
Kalau ada perlunya (2x)

Bm A 4x

D
Kalau terlalu banyak begadang
A A-E-A
Muka pucat karena darah berkurang
E E D
Bila sering kena angin malam
A
Segala penyakit akan mudah datang
Bm A
Darilah itu sayangi badan
Bm A
Jangan begadang setiap malam

Chord Guitar Rhoma Irama - keramat

Keramat
Intro = Am F 2x
D Am F Am

Am Am-Em-G-Am
Hai manusia
C
Hormati ibumu
Am Am-Em-G-Am
Yang melahirkan
C
Dan membesarkanmu

Dm Am
Darah dagingmu dari air susunya
Dm G Am
Jiwa ragamu dari kasih sayangnya

Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Intro2 = Am F G Am

E F E
Doa ibumu dikabulkan tuhan
F E
Dan kutukannya jadi kenyataan

Intro3 = Am D Am

Ridha ilahi karena ridhanya
Murka ilahi karena murkanya


Am-Am-G-Am F-F-E-F
Bila kau sayang pada kekasih
G-G-F-G Am-Am-G-Am
Lebih sayanglah pada ibumu

Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu


Bukannya gunung
tempat kau meminta
Bukan lautan
Tempat kau memuja

Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua

kort lagu rhoma irama- malam terakhir

A G
Malam ini malam terakhir bagi kita
F G Am
Untuk mencurahkan rasa rindu di dada
Am G
Esok aku akan pergi lama kembali
F G Am
Kuharapkan agar engkau sabar menanti

Int: Am G (8x)

Am G
Esok aku akan pergi lama kembali
F G Am
Kuharapkan agar engkau sabar menanti
Am G
Aku akan sabar menanti kembali
F G Am
Selamat jalan dan sampai jumpa lagi

Am
Esok kita akan berpisah
G
Tentu hari-hari kan jadi sunyi
Am
Esok kita akan berpisah
G
Tentu hari-hari kan jadi sunyi
Am F
Semakin lama kita berpisah
G Am
Semakin mesra untuk berjumpa

Am G
Malam ini malam terakhir bagi kita
F G Am
Untuk mencurahkan rasa rindu di dada
Am G
Kita akan berjumpa di saat bahagia
F G Am
Di saat malam pesta perkawinan kita


Int: Em... F... (2x)
Am G Am

Am Em
Mengapa... mengapa hatiku berdebar-debar
F
Seakan-akan ku ragu
G Am
Untuk merelakan kepergianmu kasih


Int: Am G Am

Am Em
Mengapa... mengapa hatiku berkata-kata

kort lagu rhoma irama- malam terakhir

A G
Malam ini malam terakhir bagi kita
F G Am
Untuk mencurahkan rasa rindu di dada
Am G
Esok aku akan pergi lama kembali
F G Am
Kuharapkan agar engkau sabar menanti

Int: Am G (8x)

Am G
Esok aku akan pergi lama kembali
F G Am
Kuharapkan agar engkau sabar menanti
Am G
Aku akan sabar menanti kembali
F G Am
Selamat jalan dan sampai jumpa lagi

Am
Esok kita akan berpisah
G
Tentu hari-hari kan jadi sunyi
Am
Esok kita akan berpisah
G
Tentu hari-hari kan jadi sunyi
Am F
Semakin lama kita berpisah
G Am
Semakin mesra untuk berjumpa

Am G
Malam ini malam terakhir bagi kita
F G Am
Untuk mencurahkan rasa rindu di dada
Am G
Kita akan berjumpa di saat bahagia
F G Am
Di saat malam pesta perkawinan kita


Int: Em... F... (2x)
Am G Am

Am Em
Mengapa... mengapa hatiku berdebar-debar
F
Seakan-akan ku ragu
G Am
Untuk merelakan kepergianmu kasih


Int: Am G Am

Am Em
Mengapa... mengapa hatiku berkata-kata

Chord Guitar Rhoma Irama - kegagalan cinta

Int: G

(*)
G C
Cukup sekali aku merasa
D G F G
Kegagalan cinta
G C
Takkan terulang kedua kali
D G
Di dalam hidupku
G C D
Ho.. ho.. ya nasib ya nasib
G
Mengapa begini
C D
Baru pertama bercinta
G
Sudah menderita

G C
Cukup sekali aku merasa
D G
Kegagalan cinta
G C
Takkan terulang kedua kali
D G
Di dalam hidupku

Int: G C G (2x)

Reff:
G C
Kau yang mulai kau yang mengakhiri
D G
Kau yang berjanji kau yang mengingkari
G C
Kau yang mulai kau yang mengakhiri
D G
Kau yang berjanji kau yang mengingkari

C G
Kalau begini akhirnya
C G
Tak mau bermain cerita

Chord Guitar Rhoma Irama -Gelandangan

Intro: D# G# A# D#

D# Cm
Kering sudah rasa air mataku
Gm A# D#
Terlalu banyak sudah yang tertumpah
Cm
Menangis meratap buruk nasibku
G# A Dm
Nasib buruk seorang tunawisma

Gm Cm
Langit sebagai atap rumahku
Gm Cm
Dan bumi sebagai lantainya
G# A#
Hidupku menyusuri jalan
G# A# D#
Sisa orang yang aku makan

Gm Cm
Langit sebagai atap rumahku
Gm Cm
Dan bumi sebagai lantainya
G# A#
Hidupku menyusuri jalan
G# A# D#
Sisa orang yang aku makan

Cm
Jembatan menjadi tempat perlindungan
G# A# D#
Dan terik matahari dan hujan
Cm
Begitulah hidup yang aku jalani
G# A# D#
Entah sampai kapan begini

Int: D# G# A# D# (2x)
A# D#

Nikmati Chord Dengan Menekan -- F11 -- Di Komputer Anda dan Gunakan Fasilitas Baru Kami Kunci Gitar & Lirik » Home » Dangdut , pop , Ridho Rhoma , Son

menunggu
[intro] Bm D A Bm
Bm A Em Bm G A F#m Bm
G-F#

Bm G A
Sekian lama aku menunggu

G A Bm F#
Untuk kedatanganmu

Bm G A
Bukankah engkau telah berjanji

G A Bm
Kita jumpa di sini

A F#m Bm
Datanglah, kedatanganmu kutunggu

A F#m Bm
Telah lama, telah lama ku menunggu

[intro] Bm A F# Bm
G-F#

Bm G A
Derita hidup yang kualami

G A Bm
Duhai pahit sekali

Bm G A
Pada siapa aku berbagi

G A Bm
Kalau bukan padamu

A F#m Bm
Datanglah, kedatanganmu kutunggu

A F#m Bm
Telah lama, telah lama ku menunggu

[interlude] Bm A F#m Bm 2x
Bm F#m A Bm
Bm D Bm
A Bm G A Bm

Bm A G
Selain dirimu kasih

A G Bm
Tiada yang lain lagi

Bm A G
Tempat cintaku bersemi

A G Bm
Mencurahkan isi hati

A G
Lama sekali aku menanti

A Bm
Kedatanganmu kekasih

A G
Betapa hati tidak kan sedih

A G Bm
Kau biarkan ku sendiri


[intro] Bm A F#m Bm G-F#


Bm G A
Sekian lama aku menunggu

G A Bm F#
Untuk kedatanganmu

Bm G A
Bukankah engkau telah berjanji

G A Bm
Kita jumpa di sini

A F#m Bm
Datanglah, kedatanganmu kutunggu

A F#m Bm
Telah lama, telah lama ku menunggu

Chord Guitar Rhoma Irama - Sahabat


Intro: Gm-Gm-Gm D#-D#-D#
Gm-Gm-Gm D#-E-F-F#-Gm

Gm
Mencari teman memang mudah
F Gm
‘Pabila untuk teman suka
Gm
Mencari teman tidak mudah
F Gm
‘Pabila untuk teman duka


Bridge:

Cm Gm
Banyak teman di meja makan
Cm D
Teman waktu kita jaya
Cm Gm
Tetapi di pintu penjara
Cm D
Di sana teman tiada




Gm
Mencari teman memang mudah
F Gm
‘Pabila untuk teman suka
Gm
Mencari teman tidak mudah
F Gm
‘Pabila untuk teman duka


int: Gm-C Gm-C-Bb (7x)
interlude: Am Bb Gm 2x
Gm-F-Gm-C-Bb
Gm-F-Gm-C-Gm
Gm-F-Gm-C-Bb
Gm-F-Gm-C-Gm

Reff:

Gm F
Sesungguhnya nilai teman yang saling setia
D# D
lebih dari saudara


int: Gm-F-Gm-C-Bb
Gm-F-Gm-C-Gm

Gm F
Itu hanya mungkin bila di antara kita
D# D
seiman seagama
Cm Bb
Seumpama tubuh ada yang terluka
D Gm
Sakitlah semuanya


Gm
Itulah teman dalam taqwa
F
Satu irama selamanya
Gm
Itulah teman yang setia
F Gm
Dari dunia sampai surga


Bridge:

Cm Gm
Bila teman untuk dunia
Cm D
Itu hanya sementara
Cm Gm
Tapi teman dunia-akhirat
Cm D
Itu barulah sahabat


Gm
Itulah teman dalam taqwa
F Gm
Satu irama selamanya
Gm
Itulah teman yang setia
F Gm
Dari dunia sampai surga


Ending:

Gm C Bb F Gm
Pa-pa-pa-pa-pa

Jumat, 05 Agustus 2011

putus

"Kamu nggak akan ninggalin aku kan Dave? Janji yah!" rajuknya manja
.
Winnie, gadis 17 tahun itu memandang tepat mataku. Pandangan mata yang begitu polos, begitu tulus, tapi begitu… membuatku jengah. Entah bagaimana dia selalu bisa langsung menghujam bola mata ini setiap kali ia menatapku
.
"Sabtu besok ada film bagus di bioskop. Kita nontong ya? Sudah lama kita nggak nonton berdua," ajaknya. Belum sempat aku menjawab, dia sudah membicarakan yang lain.

"Nanti Winnie pakai baju pink. Kamu kan paling senang lihat cewek yang pakai baju warna pink. Jadi kamu harus lihat Winnie terus, nggak boleh lirik kanan kiri," katanya. Sekarang dia malah sibuk mempersiapkan penampilannya.

Winnie, gadis yang kupacari sejak dua tahun yang lalu. Aku masih ingat betul saat pertama kami bertemu di jembatan yang menghubungkan gedung sekolah dan laboratorium. Saat itu, aku tidak sengaja menginjak kakinya."Auch!" pekik Winnie.

Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Dia sudah terduduk di lantai, memegangi kaki kirinya."Maaf," kataku.

"Maaf gimana? Kamu nggak tahu yah, kemarin baru aja aku lepas plester dari jempol kakiku. Sekarang kamu injak lagi. Sakit tahu nggak? Kayaknya keseleo nih," ocehnya sambil membuka sepatu dan kaus kakinya.

Jempol mungil itu membiru. Aku jadi makin tidak enak hati.
"Eh, ngapain lihat-lihat doang? Aku nggak bisa jalan nih, bantuin dong," pintanya ketus.

Dengan hati-hati aku mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Ketika tangan kami bersentuhan, ada getaran aneh yang kurasakan. Aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dia balas menatapku. Untuk beberapa detik kami bertatapan. Mungkin, saat itulah kami jatuh cinta.

Yang jelas, sejak kejadian itu kami jadi akrab. Mulanya kami hanya berkirim sms atau menelepon. Lalu aku mulai berani mengajaknya kencan yang berakhir dengan diterimanya pernyataan cintaku.

Winnie gadis yang manis. Sikapnya yang begitu natural dan spontan. Hubungan kami diwarnai dengan kejutan-kejutan yang selalu baru. Tapi sekarang…

"Dave!" panggilnya riang. "Jangan bengong dong! Antarin Winnie pulang yah. Atau kamu mau ajak Winnie jalan-jalan dulu? Kita main bowling yuk," katanya. Aku hanya diam. Kupandang mata bulatnya dan rambutnya yang berkibar ditiup angin. Aku ingat, aku dulu yang menyuruhnya memanjangkan rambut.

"Dave, Winnie pengin potong rambut nih! Boleh nggak?" dia bertanya. "Win," bisikku seraya mengelus rambutnya yang waktu itu masih sebahu. "Aku suka rambutmu yang lembut, halus, dan wangi. Kamu tambah cantik kalau rambutmu panjang," kataku.

Seketika wajah putihnya memerah. Memang begitu reaksi Winnie bila kupuji. Dan itu adalah salah satu hal yang aku sukai darinya.

"Tapi, main bowling bikin capek yah." Dia berceloteh lagi, membuyarkan lamunanku tentang rambutnya. "Gimana kalu ngobrol aja di rumah. Nanti Winni mainin lagu kesukaan kita," lanjutnya. Dia mulai menyenandungkan lagu kebangsaan kami.

Kami sama-sama suka biola. Bedanya, aku hanya bisa mendengarkan sedangkan Winnie begitu piawai memainkan alat musik itu. Dia memang bercita-cita menjadi violis handal. Selain sama-sama suka biola, kami juga suka lagu-lagu melankolis. Kasih Tak Sampai, sebuah lagu dari Padi adalah lagu favorit kami berdua.

Kami sering menyanyikan lagu itu dengan iringan biola Winnie sambil berpura-pura sedih menghayati lagu itu. Tak kusangka, kini lagu itu sungguh-sungguh terjadi dalam hubungan kami.
"Dave!" panggilnya lagi. "Jawab dong! Dari tadi kok diam terus? Kamu marah sama Winnie ya?" Ah… itulah Winnie. Bila aku tidak menanggapi ocehannya, dia selalu menyangka aku marah. Padahal, aku nyaris tidak pernah marah padanya.

Aku terlalu menyayanginya dan aku tidak pernah ingin menyakitinya. Tapi sekarang aku sudah tidak tahan lagi. Sudah terlalu lama dia berada dalam ketidakpastian ini. Aku harus… putus dengannya.
"Dave, jawab dong!" ucapnya setengah berteriak.

"Winnie," akhirnya aku bersuara. "Maafkan aku. Aku sayang kamu dan perasaan ini nggak berubah sampai sekarang. Tapi, kita sudah nggak bisa bersama lagi…" ucapku. Air mata yang paling kubenci itu mulai mengalir dari pelupuk matanya. Bibir mungil itu menjerit, "Kenapa Dave? Kenapa?"

Sambil menegarkan hati aku melanjutkan perkataanku, "Karena terlalu banyak perbedaan di antara kita. Aku nggak bisa masuk ke duniamu seperti halnya kamu nggak bisa masuk ke dalam duniaku. Maafkan aku… ini bukan keinginanku."
"Dave jangan pergi!" teriaknya.

Aku menatapnya dalam-dalam. Kuharap ini yang terakhir kalinya dia menemuiku. Sudah setahun ini ia setia menunggu terwujudnya harapan semu. Di antara mimpi dan realita. Kami berdua telah membohongi diri kami sendiri hanya karena takut menerima kenyataan. Kami menutupi kenyataan yang pahit dengan mimpi-mimpi yang manis. Padahal kami berdua sama-sama tahu, mimpi itu tidak akan pernah menjadi nyata.

"Winnie, carilah cowok lain yang bisa selalu menjaga dan menyayangimu lebih dari aku. Cowok yang dunianya sama dengan duniamu. Lupakan aku," kataku lagi. Akhirnya, kata-kata itu aku ucapkan, walaupun aku tidak yakin dia bisa mendengarku.

Ketika tubuhku terasa begitu ringan, saat itulah kubuat langkah terberat dalam hidupku. Langkah untuk meninggalkannya. Dalam benakku kenangan-kenangan manis itu hadir satu per satu. Kenangan-kenangan yang tak akan mungkin terulang kembali.

Sejenak aku menoleh ke belakang, memandang wajahnya yang sedih. Ingin rasanya aku berlari kembali, menyeka air matanya, dan memeluknya erat-erat. Tapi, itu semua tidak bisa aku lakukan. Melihatnya dalam keadaan begitu saja sudah membuatku sakit… sakit sekali. Aku sadar dia merasakan sakit yang sama, bahkan mungkin jauh lebih dalam.

Seorang teman pernah mengatakan padaku bahwa cinta yang bertepuk sebelah tangan tidak lebih sakit dibandingkan dengan cinta yang berbalas tapi tidak bisa bersatu. Dulu aku sering mengejeknya sok romantis. Tapi sekarang, aku benar-benar tahu makna kata-kata itu. Setidaknya bila cintaku bertepuk sebelah tangan, hanya aku sendiri yang merasakan sakitnya. Sementara sekarang, kami berdua sama-sama terluka. Luka yang entah kapan bisa pulih.

"Winnie," batinku, "semoga kamu selalu bahagia. Aku harap kamu mendapatkan cinta yang sejati yang tidak pernah meninggalkanmu seperti aku."

Angin sore berhembus semilir mengalirkan langkah kaki menuju tempatku yang sesungguhnya. Dengan mata nanar aku menatap pemandangan di hadapanku yang semakin lama semakin kabur…
Dia masih ada di sana, memeluk batu bisu itu.

Seandainya Aku…

Pagi ini benar-benar dingin. Maklumlah, karena kemarin malam hujan turun dengan derasnya. "Hoahem..," aku menguap lebar-lebar. Karena rasa lapar dan dingin yang sedari kemarin menyerang, memaksa tubuh kurus ini untuk mengemis makanan lagi. Aku berjalan di depan toko-toko yang masih tertutup rapat. Aku mencium bau ayam goreng, makanan favoritku sedari kecil, yang selalu ibu berikan padaku dulu. Tapi sekarang tidak lagi karena beliau telah tiada. Dan ayahku tak tahu dimana beliau sekarang. Aku mulai berjalan lagi, kubiarkan saja air mataku yang mulai jatuh di pipi. Karena aku yakin tak ada yang akan memperhatikan aku yang dekil menangis seperti ini.

Aku menoleh ke kiri jalan, ada sebuah sekolah yang masih tutup. Dulu sewaktu aku kecil, aku sering bermain disitu. Tapi sekarang tidak lagi karena dulu aku sering berangan-angan agar besok jika sudah besar bisa bersekolah disitu. Tapi, sampai sekarang aku tak sekolah dan tak akan sekolah. Aku menghela nafas panjang, dan kuteruskan berjalan untuk mencari ganjalan perut. Di depan kulihat penjual ayam goreng favoritku. Aku suka dengan masakan dan penjualnya, karena dia selalu memberiku makan gratis setiap kali aku datang ke warungnya.

Langkahku semakin kupercepat, perut ini sudah tidak sabar untuk diisi. Semakin cepat, lebih cepat dan…"Awww!" aku terpelanting ke tanah. Sepertinya aku menabrak sesuatu. Aku paksakan tubuhku untuk bisa berdiri lagi. Di sebelahku ada seorang anak perempuan jatuh terduduk, lututnya sedikit berdarah. Dia memandangku dengan ketakutan, lalu berlari menuju sekolahnya yang sudah terbuka gerbangnya. Aku tertegun sejenak, tatapan matanya telah menyihirku. Dia seorang gadis yang sangat cantik. Kurasa aku telah jatuh cinta.

Hari semakin terik. Perutku kembali terasa lapar. Tetapi rasa lapar itu sama sekali tidak kuhiraukan karena sekarang aku sedang menunggu gadis itu keluar dari sekolah. Banyak sudah para tunas bangsa itu keluar dari tempat tugas mereka. Akan tetapi, gadis impianku itu tak kunjung nampak. Aku mulai sebal, berjalan mondar-mandir kesana-kemari. Dan akhirnya, dia muncul juga bersama kedua temannya. Aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus mengatakannya di depan teman-temannya? Ah, sebaiknya jangan, nanti dia malah ketakutan melihatku.

Kalau begitu, bagaimana ya? Seribu macam pertanyaan keluar di kepalaku. Ah, aku tak peduli yang penting aku mengikuti mereka. Dan untunglah, mereka berpisah dipertigaan gang depan. Aku tersenyum puas. Sekarang, aku tinggal menjalankan aksiku. Aku mulai berjalan mengikutinya, berjalan, dan terus berjalan. Hingga akhirnya kami sampai di jalan yang sepi, sangat sepi hingga yang terdengar hanya langkah sepatu gadis itu saja. Aku mencoba memberanikan diri untuk mendekati. Semakin dekat dan "AAAAA…," gadis itu menjerit.

"Aaaa, pergi kau! Jangan mendekat. Aku jijik denganmu!" jeritnya. Aku terkejut, sangat terkejut, ketika dia mengucapkan kata jijik itu. Hatiku benar-benar hancur! Yah, tapi aku tahu diri kok. Mana mungkin kucing sepertiku bisa menjadi kekasih manusia secantik dia. Ah, seandainya aku manusia.

Dia Bohong atau Jujur?

Mau tahu apakah dia bicara bohong atau jujur? Coba perhatikan gerak tubuhnya. Dari ekspresi dan gerak tubuhnya, kamu bakal tahu kalau dia sedang berdusta.

Mungkin kamu takkan tahu kalau dia sedang berdusta di ujung telepon atau membual dalam surat cinta. Oleh sebab itu, bila ingin tahu apakah dia bicara jujur atau bohong, sebaiknya kamu mengajak dia bertatap muka.

Sekalipun dalam benaknya sudah terangkai kata-kata "mutiara", tak jarang bahasa tubuhnya (secara mendadak) membelot dari kalimat yang mengalir lewat bibirnya. Akibatnya? Ketahuan, deh, kalau dia sedang berbohong.

Coba perhatikan beberapa bagian tubuhnya, kalau ada yang "menyimpang" dari yang seharusnya, maka bisa dipastikan bahwa dia sedang berusaha ngebokisin kamu:

1. Gelisah.

Perasaan ini sering dianggap sebuah indikasi ketidaktulusan. Terlebih jika kegelisahan itu dibarengi dengan ciri-ciri lainnya, seperti bibir dan mulut kering, tenggorokan tercekat, nafas menjadi tak beraturan.

2. Sikap dan gerak kaki.

Orang yang sedang berusaha bohong, biasanya (dengan refleks) akan menyilangkan tungkai kaki secara simultan. Konon, cara ini adalah bentuk pembelaan diri seseorang dari kemungkinan yang bakal menyerangnya.

Orang yang sedang berusaha berdusta, biasanya juga tak bisa diam. Dia akan menggerakan kakinya ke kanan-ke kiri. Hal ini disebabkan perasaan yang tak nyaman dan dia (sebenarnya) ingin mengambil langkah seribu.

3. Sikap dan gerak tangan.

Tangan akan sangat berperan membantu menegaskan maksud dan tujuan yang akan disampaikan sipembicara. Mereka akan menggerak-gerakkan tangan di udara. Tapi tak begitu bila dia sedang berdusta.

Orang yan berdusta biasanya akan menyebunyikan tangan dibalik kantong celana, mendekapkan atau mengepalkan kedua telapaknya. Atau, aktif menyentuh-nyentuh area seputar wajah, dari hidung, dagu bahkan juga kuping.

4. Gerak mata. Konon, mata lebih jujur dari mulut dan hati seseorang. Lewat indera yang satu ini, kita bisa menggali rahasia seseorang. Orang yang sedang berdusta biasanya menghindari tatapan mata langsung.

Saat berbohong, kedua pupil mata umumnya menjelajah ke mana-mana, ke atas, ke bawah, ke samping. Pokoknya menghindari tatapan langsung lawan bicara yang tengah dibohongi.

5. Tekanan suara.

Rangkaian kata-kata dalam kalimat sudah pasti menjadi the best liars of all. Nggak heran banyak orang tertipu melalui telepon, karena percaya dengan kata-kata dan rayuan yang meyakinkan.

Orang yang sedang berbohong biasanya sedikit bicara. Kalaupun bicara, banyak kalimat yang nggak nyambung, yang berusaha dikoreksinya. Intonasi bicara mereka umumnya menggantung atau ngambang.

Cerpen Korrie Layun Rampan

Apakah yang unik dikisahkan tentang Bentas Babay? Arus sungai yang berubah dari sebuah dataran tanjung yang berlekuk ke selatan, dan tanjung yang memanjang itu digali oleh Babay --seorang pedagang yang selalu memintas di tempat itu dengan perahu berdayung dua. Karena ingin memperpendek jarak, Babay menggali tanjung curam itu. Oleh aliran air sungai yang deras selama musim banjir, lama-kelamaan tanjung itu putus dan membentuk sungai baru. Bagian ke hilir sungai itu membentuk sebuah teluk, yang pada arus air dalam, teluk itu memusar dengan ulak yang masuk ke dalam lingkaran arus yang deras. Ngeri sekali tampaknya.

Karena terusan yang berubah jadi sungai itu digali Babay, hingga kini orang menyebutnya Bentas Babay, yang maknanya bertemunya sungai baru akibat putusnya sebuah dataran tanjung.

Tapi penting apakah hingga ia perlu diceritakan? Adakah di tempat itu pernah terjadi sesuatu yang istimewa seperti pertempuran sengit saat pendaratan tentara Sekutu di Normandia? Atau ada pohon berhantu seperti beringin tua dan meninggalkan kematian dari zaman ke zaman seperti kelaparan dan pembantaian yang mengerikan? Atau ada hal-hal lainnya yang mengandung kisah seperti perselingkuhan dan marabencana?

Kukatakan dengan cepat bahwa kisah itu adalah bencana!

Tapi bukankah marabencana selalu ada di setiap waktu di setiap daerah?

Perlu apakah dikisahkan agar diketahui orang lain?

Kukatakan dengan segera bahwa kisah marabencana itu dimulai dari rasa suka yang berlimpah! Seperti Jayakatwang yang berpesta pora setelah mengalahkan Kertanegara, lalu tumpas karena diserang tentara Tartar yang diarahkan oleh Raden Wijaya?

Tapi cerita yang akan kukisahkan ini bukan sebuah peperangan. Tidak juga tentang hantu atau demit, tapi sebuah kejadian yang menimpa empat pemuda yang baru mengenal jatuh cinta!

Buru-buru kukatakan bahwa bentuk sungai yang akhirnya menjadi Bentas Babay merupakan sebuah tanjung yang kemudian membentuk rantau yang panjang dan di bagian hilir tanah genting membentuk teluk luas yang airnya selalu menggenang hampir seperti danau. Hutan di bagian daratan teluk yang dinamai Dataran Ruratn dibuka oleh Mongkur menjadi ladang yang luas. Namun musim yang kadang tak menentu karena pengaruh El-Nino dan penebangan hutan oleh pengusaha HPH membuat banjir sering datang tidak tepat waktu dan menghancurkan padi yang baru mulai berbulir. Ikan-ikan berpesta-pora di ladang yang luas itu, dan setelah habis banjir yang tertinggal hanya dataran huma yang dipenuhi lumpur, karena padi dan palawija binasa dihanyutkan arus air yang deras. Karena sering terlanda paceklik, untuk menyambung hidup, Mongkur kadang kala bekerja membantu Babay menggali terusan di tanjung itu.

Babay selalu istirahat dan menambatkan perahunya di jamban Mongkur jika telah tiba di kawasan itu. Entah beberapa kali pedagang itu sudah ikut menumpang tidur di rakit jamban itu. Namun di suatu ketika terjadi kehebohan karena Mongkur menemukan pembantu pendayung perahu Babay meniduri istrinya dan lelaki peladang itu tak beri ampun, ia menetak lelaher lelaki muda itu. Akibatnya, Mongkur sendiri digiring ke dalam tahanan, sementara Babay harus menghentikan pekerjaannya menggali terusan untuk memotong genting tanah tanjung di situ karena harus menjadi saksi perbuatan asusila yang berujung pada tragedi pembunuhan itu.

Beberapa tahun kemudian alur terusan yang dibuat Babay telah berubah menjadi sungai, namun rumah Mongkur ditemukan sudah runtuh karena tak ada yang memelihara, dan di tempat itu menjadi tempat yang mengerikan karena tak ada orang yang berani berdiam di situ, karena tanahnya pernah dialiri darah seorang peselingkuh. Kata orang, kadang di suatu malam, jika sedang terjadi bulan mati, terdengar suara teriakan dan lolongan minta ampun, seperti suara seorang lelaki. Kadang ada tawa dan tangis saling berbarengan. Orang-orang yang memintas di tempat itu di malam hari selalu merasa ngeri, dan mereka cepat-cepat mendayung sampan agar segera lewat ke hulu atau ke hilir. Ketakutan itu berakhir, setelah orang tak lagi menggunakan pengayuh, tapi menggunakan ketinting, sehingga teriakan atau suara tangis roh kematian tak terdengar, karena gemuruh kerasnya suara mesin!

Entah cerita itu benar atau hanya dikarang oleh ahli pengisah lisan, tak ada yang tahu. Tak ada juga yang tahu apakah memang ada orang bernama Babay atau orang bernama Mongkur. Semua mulut menutur ulang cerita itu seakan-akan mereka sendiri yang mengalaminya. Dengan begitu, hingga kini cerita itu masih dikisahkan oleh generasi yang berada di kampung-kampung di sekitar situ. Apalagi setelah pohon puti yang tinggi roboh ke air di teluk itu, karena tebing sungai yang curam longsor, orang-orang merasa lebih ngeri lagi, terutama karena salah seorang warga menemukan ular raksasa sebesar pohon kelapa yang pernah memangsa manusia di teluk itu --dan saat itu sedang kekenyangan menelan seekor rusa-- mati terimpit pohon puti yang roboh. Puncak dari segala kejadian itu adalah jatuhnya Jalikng dari dahan beringin yang melayah ke arah teluk. Lelaki itu memerangkap burung punai yang memakan buah beringin yang sudah matang dengan getah pulut di subuh hari.
Entah angin kencang atau kakinya tergelincir, Jalikng tercebur ke tengah teluk, dan di bawahnya ternyata telah menanti nganga mulut buaya yang lapar.

Hanya pawang Molur yang dapat menyeret buaya nahas yang memangsa Jalikng. Beberapa bagian tubuh lelaki beristri tiga itu ditemukan di dalam perut buaya.

Sejak itu, warga terus-menerus menganggap kawasan itu angker. Namun ada juga orang yang memanfaatkan keangkeran itu, karena pada waktu-waktu tertentu ada buaya yang bertelur di banir-banir pohon dahuq. Secara diam-diam orang itu mengambil telur-telur buaya itu, dan bahkan ada orang yang memasang jerat buaya, dan secara diam-diam menjual kulit buaya yang mahal harganya itu ke Babah Lie Auw Chu di Muara Pahu.

Bagi yang mujur, di musim kemarau di pasir pantai di utara teluk itu kadang bersarang puluhan penyu dengan ratusan telur di setiap lubangnya. Tapi menurut cerita, puluhan tahun lalu orang berhenti membantai penyu dan buaya karena salah seorang yang suka diam-diam mengambil telur-telur dan menjerat buaya itu dimangsa buaya badas yang ganas.

Entah mengapa, lingkungan teluk itu selalu disertai cerita yang menyeramkan. Kalau bukan cerita tentang kematian atau duka cita, kisahnya selalu berujung pada tragedi kesedihan.

Lalu tentang empat pemuda yang mulai jatuh cinta? Kisahnya sederhana, bermula dari waktu vakansi. Empat pemuda yang menghabiskan waktu seselesai ujian akhir SMA, pergi berdagang ke kampung-kampung di udik Sungai Berasan. Entah memang sudah sampai waktunya untuk bertemu dengan kekasih masing-masing, entah memang hanya suatu kebetulan, saat keempat pemuda itu menghilir dengan berkayuh cepat di gelap bulan mati, tepat saat memintas di Bentas Babay itu, haluan perahu membentur tunggul yang mencuat di tengah sungai. Perahu yang sarat muatan hasil dagangan seperti padi, beras, ayam, dan lima ekor kambing segera oleng oleh kejutan arus dan ulak. Dengan tak terduga dari arah hulu meluncur sebuah ketinting dan segera menggepak perahu yang sudah oleng ke arah kiri. Baik perahu maupun ketinting sama-sama tenggelam bersama muatannya.

Tiga pemuda yang berdagang dalam masa vakansi tenggelam karena terbentur haluan ketinting. Tiga pemudi bersama motoris ketinting juga tenggelam di dalam ulak air yang deras di tengah teluk yang dalam. Hanya satu pemuda dan satu pemudi yang selamat, dan dari mereka itulah cerita ini ditulis kembali.

Tabrakan itu sebenarnya terjadi karena masing-masing mereka telah berjanji bertemu hari itu di Kampung Rinding, sehingga empat gadis harus kembali dari Kampung Sembuan di udik Sungai Nyuatan dan empat pemuda harus menghilir dengan cepat dari pehuluan Sungai Berasan.

Cinta memang mengatasi segala-galanya. Tapi merabencana kemudian mengambil seluruh rencana mereka yang telah tiada.

Peristiwa selalu tak terduga!

***

Empat puluh tahun lalu peristiwa tabrakan Bentas Babay itu terjadi. Kawasan di Dataran Ruratn yang berada di bagian atas teluk Bentas Babay itu telah berubah seperti disulap oleh teknologi ekologi. Hutannya bukan hutan terlantar karena ditinggalkan Mongkur setelah membunuh pembantu Babay, tapi telah berubah menjadi hutan tanaman industri pohon ulin alias kayu besi. Di arah bagian bantaran sungai berdiri mess para pekerja dan rumah mewah pemilik HTI di dalam kompleks yang elite.

"Kasihan tiga pasang kawan kita tak sempat mengecap cita-cita membangun kongsian HTI," si wanita berkata kepada lelaki yang ada di depannya. "Kalau tak ada nahas tunggul Bentas Babay ini mereka masih ada bersama kita."

"Tapi kita telah tebus cita-cita itu, Ningsih. Bukankah nama mereka juga diabadikan di dalam bagian-bagian hutan kayu besi ini?"

"Hanya nama, Syar. Mereka tidak menikmati langsung. Bukankah sejak kecil kita telah bersepakat akan maju secara bersama-sama?"

"Tapi peristiwa mengambil segala yang baik dari kita. Syukur masih ada pasangan kita yang hidup dari peristiwa teluk tunggul kayu Bentas Babay itu? Sehingga kita dapat melaksanakan amanat bersama?"

Lebih 20.000 hektare HTI kayu besi yang berusia lebih dari dua puluh lima tahun. Ribuan pohonnya ada yang sudah lebih besar dari badan orang dewasa. Pohon-pohon langka itu membuat pemiliknya sampai mendapat anugerah dari sejumlah institusi di luar negeri sebagai penyelamat lingkungan dengan menanam pohon langka. Kalau bukan HTI, mungkin pemiliknya mendapat anugerah Kalpataru.

Lelaki dan wanita yang berbicara itu merupakan pemilik HTI kayu besi. Mata mereka tiba-tiba dikejutkan oleh permainan akrobatik pesawat tempur di udara.

"Apakah ada perang di kawasan kita? Apa yang diperangi di sini?" si lelaki terus menatap televisi. "Bukankah hanya pemulihan keamanan dari GAM di Aceh. Adakah yang direbut lainnya dari kita?"

"Itukah Sukhoi yang diributkan?"

"Bukan. Bukan Sukhoi. Bukankah Sukhoi sudah diterima beberapa waktu lalu?"

"Apa pesawat yang akan membomi Irak lagi?"

"Tak mungkin membom Irak. Bukankah perang frontal sudah usai. Lagi, tak mungkin persiapan pesawat tempurnya hanya empat?"

Mata mereka melihat ada pesawat lainnya yang seperti menguntit formasi empat pesawat udara yang mengadakan akrobatik udara. Lama kemudian baru mereka mendengar penjelasan bahwa ada pesawat tempur Amerika melakukan aksi selama dua jam di udara di atas Pulau Bawean. Pesawat F18 milik Amerika yang mengawal kapal-kapal negeri adidaya itu melewati perairan Indonesia. Pihak Angkatan Udara Indonesia menangkap manuver terlalu lama dari izin perlintasan dan kemudian mengirim F16. Hampir saja terjadi sesuatu yang tak diingini, karena pesawat yang mengintai hampir ditembak oleh mereka yang memintas.

"Terlalu banyak peristiwa akhir-akhir ini," si lelaki menatap istrinya yang duduk tenang menatap televisi. "Bahkan perusahaan HTI kita ini juga diungkit-ungkit para provokator."

"Katamu ada yang malah mengancam," istrinya menimpali. "Ingin membakar dan memusnahkan kalau tuntutan ganti rugi lahan tak dilakukan."

"Reformasi memang maksudnya keterbukaan. Lebih dua puluh lima tahun semuanya sudah dibereskan," sang suami menatap istrinya. "Tapi kebablasan, sekarang sering membuat kesusahan dan kerugian!"

"Katamu anak cucu pemilik tanah yang menuntut. Terutama mereka yang sudah kematian ayah atau kakek moyang. Mereka katakan belum menerima penggantian."

"Buktinya ada," sang suami masih menatap televisi. "Mungkin mereka yang menuntut itu belum lahir saat dilakukan pembayaran. Tak mungkin kita membayar berkali-kali."

"Kadang kertas dan kata-kata di atasnya tak mempan dalam era orang berebut kekuasaan seperti sekarang ini," sang istri yang berkata. "Hukum sudah begitu rendahnya terinjak-injak!"

"Karena orang maling ayam lebih dihargai hukum dibandingkan koruptor triliunan."

"Karena pemaling ayam orang miskin, koruptor menggunakan kekuatan uang."

"Itu masalah moral," sang suami menatap awan. "Rendahnya derajat kemanusiaan membawa dampak buruk di seluruh sendi kehidupan!"

"Seharusnya uang dicari tapi tak menguasai tubuh dan jiwa. Uang dikuasai!"

"Seharusnya begitu."

Serentak suami istri itu memandang ke arah langit. Ada titik dan deruan menandakan bunyi di bentangan cakrawala.

"Adakah itu pesawat pemerintah kabupaten pemekaran yang baru dibeli dibawa ke Lapangan Terbang Melalan?" sang suami menunjuk ke arah noktah. "Masyarakat mulai akan menikmati kemudahan."

"Paling-paling yang menggunakan para pejabat, pimpinan partai politik, dan kaum berada. Siapa rakyat jelata mampu membeli tiket sejuta pergi pulang ke Balikpapan?"

"Tapi sudah bagus ada ide dan realisasi pesawat pemutus isolasi," sang sumi menimpali. "Daripada selama ini naik kapal air dan memintas jalan berlumpur sedalam pinggang!"

"Nenek-moyang dulu-dulunya bisa hidup layak. Mengapa harus dipersoalkan?"

"Lain zamannya, Bu."

"Tapi lihat di berbagai kampung. Rumah kumuh beratap daun masih merajalela. Di pehuluan beras seharga lima ribu. Puluhan tahun merdeka tapi mengapa belum juga merdeka?"

"Pesawat itu tanda merdeka."

"Pesawat barang mewah. Lalu mengapa kebutuhan sehari-hari harganya seperti barang mewah?"

"Kalau penghasilan tinggi, tak ada harga barang yang tinggi."

"Nyatanya penghasilan masyarakat sangat rendah. Bukankah kau sendiri ikuti upah minimum daerah Rp 572.562,00 per bulan? Cukupkah untuk membiayai keluarga beranak tiga?"

"Perusahaan kita bukan lembaga sosial."

Tiba-tiba telinga suami istri itu dikejutkan oleh suara gelegar dan ledakan yang hebat ke arah tengah onderneming kayu besi. Tak lama kemudian mata mereka menangkap asap yang tebal naik ke atas.

Beberapa orang yang ada di base camp itu terdengar berteriak. "Pesawat pemda yang baru dibeli jatuh di hutan kayu besi. Pesawat yang baru dibeli jatuh terbakar di hutan ulin HTI kita."

Lelaki dan wanita itu berdiri terperanjat. Mata mereka nyalang memandang asap api dari hutan kekayaan. Tak lama kemudian terdengar deru motor dan mobil dan gegas penjaga hutan di bagian utara. Mereka segera melapor bahwa ada pesawat jatuh dan hutan HTI terbakar.

Lidah api disertai asap tebal makin meluas karena angin makin santer. Lelaki pemilik onderneming itu merasa kepalanya berdenyut hebat. Bukankah para operator alat-alat berat dan regu pemadam kebakaran sedang cuti? Sejumlah mereka pulang ke Jawa dan Sumatera!

Masih dalam terpana, lelaki pemilik HTI, api terus menyebar dengan cepat karena tiga bulan terakhir tak setetes pun hujan turun dari langit. Ke mana menyewa pesawat untuk memadamkan api? Siapa bisa mengoperasikan alat-alat berat guna melokalisasi api? Sementara api terus mengojah langit!

"Enam teman kita mati. Usaha kita gagal, Pa," si wanita terdengar bersuara memelas. "Mengapa pemda harus beli pesawat rongsokan sehingga jatuh dan mencelakakan usaha HTI kita. Ke mana Papa mencari dana menutup kerugian dari kebangkrutan? Bibit kayu gaharu yang disemai di utara juga dilalap api?"

Di base camp orang ribut berlarian berusaha menyelamatkan diri karena lidah api dari hutan kayu besi makin mendekat menjadi-jadi.

"Lari! Kalau tak mau mati, lari cepat ke sungai. Lari ke kampung selamatkan diri! Ayo! Lari cepat!"

Api makin mendekat ke arah base camp dan hampir menjilat rumah mewah milik pengusaha HTI di lingkungan base camp.

Suara itu seperti litani bersahut-sahutan makin keras. "Cepat kita ngungsi! Tinggalkan kawasan Bentas Babay. Cepat kita selamatkan diri! Ayo! Lekas kalau tak mau mati dilalap api!"

Lelaki pemilik HTI tampak bengong menatap asap hitam dan lidah api yang menjolok langit. Dari mulutnya terdengar suara seperti geraman. "Kejayaan dan kemaslahatan tiba-tiba mengubah nasib menjadi kere gombal. Mengapa pemkab harus membeli pesawat bekas yang mencelakakan?"

Sebagian besar lahan HTI telah dilalap api. Cahaya merah menyebar ke segala arah! "Masyarakat dan provokator dapat diredam dari kebablasan reformasi. Tapi mengapa justru pesawat yang membakar HTI?!" suara lelaki itu terdengar lemah sambil matanya terus menatap hutan yang musnah! "Mengapa harus membeli pesawat yang tak diproduksi lagi. Dari Kanada pula, bukannya membeli milik sendiri dari PT Dirgantara Indonesia?" suaranya bagaikan menolog yang sumbang.

Deru api makin menjadi-jadi! ***

Catatan:
Bentas = tanjung terpotong menjadi sungai
puti = kempas, ohon tempat madu bersarang
dahuq = dracontomelon spp; fam. Anacardiaceae
badas = salah satu jenis buaya air tawar
kayu ulin = Eusideroxylon zwageri
kayu gaharu = Aquilaria malaccensis

---
Korrie Layun Rampan, sastrawan, telah menulis seratusan judul buku sastra. Lama tinggal di Yogyakarta, Jakarta, dan kini menjabat ketua Komisi I DPRD Kutai Barat.